Postingan

''Jati Wangi'' yang Bikin Wangi Jati Wangi

Gambar
Setiap mendengar kalimat ''Jati Wangi'' pikiran kita pasti akan tertuju pada genteng press berkualitas tinggi. Tapi jangan salah, Jati Wangi bukan merek genteng. Jati Wangi merupakan nama sebuah desa di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, yang terkenal sebagai pusat produksi genteng press terbaik di Indonesia. Di Desa Jati Wangi, ada ratusan pengusaha genteng press. Karena itu, tidak heran kalau semuanya menempelkan kalimat ''Jati Wangi''. Selain sebagai penanda bahwa genteng tersebut berasal dari Jati Wangi, pencantum kalimat ''Jati Wangi'' juga membuat konsumen percaya pada kualitas genteng tersebut. Jati Wangi memang sudah identik dengan genteng bermutu. Pencantuman kalimat ''Jati Wangi'' menjadikan genteng tersebut tetap eksis di pasar berkompetisi dengan genteng sejenis dari Sokaraja (Banyumas), Kebumen dan Jepara. Ketiganya dari wilayah Jawa Tengah. Sudah tak terhitung lagi, berapa kali saya lewat Jat...

Bagaimana Cara RFID Monitoring BBM?

Gambar
RFID. Sering mendengar namanya, tetapi baru sekali ini saya melihatnya. Kebetulan petugasnya baik hati, membolehkan saya memotret dan meminta penjelasan cara kerjanya. RFID atau radio frequency identification mendadak jadi obrolan menarik antara saya dengan petugas SPBU di Sunter, Senin tengah malam (29/7). Gara-garanya, petugas itu beberapa kali gagal mengoperasikan pompa bensin ke tangki mobil saya, hingga  empat kali. ''Sebentar Pak. Saya bersihkan dulu lempengan RFID-nya. Sepertinya kotor jadi mesin pompa tidak mau menyala,'' kata petugas itu. Lempeng RFID kotor di mobil saya bisa membuat mesin pompa bensin tidak bekerja? Bagaimana hubungannya? Ternyata, mesin pompa di SPBU Sunter itu harus terkoneksi dulu dengan RFID untuk bisa beroperasi. Cara menghubungkannya dengan menempelkan  logam yang ada pangkal corong bensin ke lempeng RFID dan bodi mobil. Begitu kedua bagian bonggol corong terhubung secara benar, layar display digital pada pompa l...

Melihat Kampung Kuliner BSM

Gambar
Dulu lorong sepanjang 180 meter di belakang Gedung Bank Mandiri itu kumuh dan penuh sampah. Pada 2011, kawasan itu disulap menjadi Pusat Kuliner Bank Syariah Mandiri (BSM). Sampai sekarang lokasi ini tetap terjaga bersih dan rapi. Sebanyak 160 pedagang yang berjualan di dalamnya menjaga kebersihan lingkungan secara sadar. Berkat lingkungan bersih, pembeli yang mayoritas karyawan perkantoran itu doyan makan di sana. Menteri BUMN Dahlan Iskan termasuk salah satu yang sering makan siang di pusat kuliner BSM. Mas Nardi, teman baik saya yang menjadi eksekutif BSM, menceritakan bahwa penataan kampung kuliner merupakan salah satu konsep pelaksanaan corporate social responsibility perusahaannya. ‘’Dana CSR harus didistribusikan untuk mendorong produktivitas lingkungan,’’ kata Mas Nardi yang asli Boyolali itu. Konsep CSR BSM ini memang  perlu   diacungi jempol.

Bursa Hewan Qurban Modern Untuk Jakarta

Gambar
Dalam dua bulan ke depan, berbagai kawasan di Jakarta akan mulai diserbu pedagang hewan qurban. Banyak tempat yang selama ini ‘’steril’’ akan menjadi jorok dan bau kotoran sapi, kerbau dan kambing. Pak A Hok sebagai pelaksana tugas Gubernur DKI Jakarta harus segera mengambil langkah antisipasi dengan membuat pusat bursa hewan qurban. Pusat hewan qurban itu, kalau perlu digratiskan saja untuk para pedagang, agar tidak berdagang di sembarang tempat. Adakah contohnya? Ada. Setidaknya di Surabaya dan di Depok, Jawa Barat, sudah ada yang memulainya. Di Surabaya, pengelola pusat pameran terbesar, Jatim International Expo, Jalan Ahmad Yani pernah membuat event bursa hewan qurban yang didesain seperti sebuah mall. Ruang pajangnya bersih dan berpendingin udara. Pedagangnya SPG yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Di Depok, Jawa Barat, Haji Doni, seorang pedagang hewan qurban juga membuat konsep penjualan yang tidak kalah menarik. Kandangnya dijaga agar selalu bersih dan...

Meja Makan di Tengah Jalan Negeri Jiran

Gambar
Pedagang di kawasan Bukit Bintang cukup tertib pada siang hari. Untuk menata pedagang kaki lima, ada baiknya Pemda DKI Jakarta melakukan study banding ke Malaysia. Setidaknya untuk melihat pusat perniagaan kaki lima di Bukit Bintang. Saya menginap dua malam di sebuah hotel kecil di kawasan Bukit Bintang, tahun lalu. Bersama semua karyawan, kami mengikuti wisata murah-meriah sebagai ucapan terima kasih atas kinerja mereka setahun sebelumnya. Beberapa blok di belakang Hotel Fragrance tempat kami menginap merupakan pusat perniagaan kaki lima yang sangat ramai. Jumlahnya ratusan, memenuhi bahu jalan di sisi kiri dan kanan. Mulai melanggar pada petang hari Para pedagang kaki lima sebenarnya sudah diberi toleransi pemerintah daerah Bukit Bintang untuk berjualan dalam batas tertentu dan pada jam tertentu. Melebihi batas itu berarti melanggar. Maka, mereka harus siap menerima sanksi. Karena mungkin pengunjung yang ramai, malam itu banyak pedagang menggelar lapak hin...

Hilangnya Trotoar di Kota Jakarta

Gambar
Dua tahun lalu, tukang bubur kacang hijau di sudut pertigaan Jalan Kebayoran Lama itu hanya mangkal setiap malam. Menempati sepetak tanah di jalur pejalan kaki, gerobak dorongnya hilang dari pagi hingga petang. Setahun lalu, gerobak dorong itu mangkal pagi, siang, sore dan malam. Pedagang bubur kacang hijau itu kemudian menambahi pangkalannya dengan selembar kain dengan tulisan ‘’Jual Bubur Kacang Hijau dan Ketan Hitam’’. Selain untuk promosi juga untuk penahan panas, hujan dan debu-debu yang beterbangan tersapu arus kendaraan. Sejak itu, pejalan kaki menjadi susah melintas. Mereka harus melangkah di jalur kendaraan. Kenyamanan pejalan kaki berubah menjadi ancaman kecelakaan lalu lintas. Kelancaran lalu lintas terganggu dengan kemacetan. Di belakang RSPAD Gatot Subroto lebih parah lagi. Warung makan kaki lima yang mangkal di situ sekarang sudah membangun warung berdinding bata di atas trotoar. Hampir setiap hari saya lewati jalur itu. Beberapa bulan lalu, pem...

Musim Beduk di Kampung Betawi

Gambar
Musim beduk tidak peduli apa partai dan siapa capresnya. ‘’Lagi musim apaan Nyak?’’ tanya saya kepada Bu Romlah, kenalan saya warga Tanah Abang, Jakarta Pusat. ‘’Musim beduk,’’ jawab Bu Romlah. ‘’Haah? Musim beduk? Kayak buah-buahan aje?’’ tanya saya setengah heran. ‘’Emangnye hanya duren yang punye musim? Beduk juga ade musimnye,’’ jawab Bu Rumlah, dengan gaya bercanda khas Betawi. Tadi sore saya menyempatkan lewat Tanah Abang. Saya penasaran seperti apa suasana musim beduk di Kampung Betawi itu. Dari arah Cideng hingga Pasar Tanah Abang, musim beduk belum terlihat. Kompleks perniagaan yang terkenal hingga ke manca negara itu mulai sepi.  Beberapa orang terlihat menutup tokonya. ‘’Buka lagi tanggal 4 Agustus 2014,’’ bunyi sebuah spanduk mini yang ditempel di rolling door sebuah toko baju muslim. Mengangkut beduk dengan bajaj Musim beduk baru terasa ketika keluar dari pasar Tanah Abang. Beberapa orang memajang beduk aneka ukuran di sepa...