ANDA melihat peristiwa menarik tetapi tidak ada wartawan yang datang? Gampang. Anda bisa menjadi wartawan penggantinya! Caranya mudah. Lakukan dengan benar sesuatu urutannya. LANGKAH 1 REKAM FOTO/VIDEONYA Rekam dulu peristiwa itu dengan foto dan video menggunakan kamera smartphone atau tablet Anda sebelum peristiwa itu berakhir. Jangan pedulikan apakah gambar Anda bagus atau tidak. Yang penting rekam saja. LANGKAH 2 TULIS INFORMASINYA Setelah merekam, tuliskan informasi tentang peristiwa tersebut. Informasi minimal meliputi: WHAT: apa peritiwanya WHO: siapa yang terlibat dalam peristiwa itu WHERE: di mana kejadiannya WHEN: kapan berlangsungnya WHY: bagaimana kejadiannya LANGKAH 3 REKAM WAWANCARANYA Mungkin Anda bisa menyampaikan langsung peristiwa itu sebagaimana seorang reporter televisi menyampaikan berita. Anda bisa membaca laporan lalu merekamnya. Bila Anda sempat wawancara dengan beberapa orang, rekamlah wawancara tersebut. Jangan lupa, setiap kali ak...
Tarjono saat disyuting sebuah stasiun TV, Senin (25/8) Tohir, yang akan naik haji Perputarannya Rp 4 Miliar Per bulan Gang sempit di dekat kantor kelurahan Sunter Jaya, Jakarta Pusat itu, sungguh padat. Rumah penduduk dengan ukuran kecil dibangun berjejal-jejal. Di sepanjang lorong terlihat kesibukan warga mengolah kedelai menjadi tempe. Begitulah suasana gang tempe sehari-hari. Siang dan malam, gang tempe tak pernah tidur. Aktivitas produksi dan distribusi silih berganti selama 24 jam. Sebutan gang tempe mulai dikenal sejak dekade 70-an. Saat itulah usaha tempe bermula. Industri rumahan itu diawali beberapa warga pendatang dari Pekalongan, Jawa Tengah. Pada pertengahan tahun 80-an, jumlah pengusaha tempe tradisional di kawasan itu berjumlah sekitar 100 orang. Namun saat ini tinggal separuhnya saja. Sebagian pindah dari gang tempe ke kawasan Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, karena penggusuran. Secara bisnis, tempe masih menjadi bidang usaha yang menjanjikan. Kar...
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.00 saat saya tiba di Apartemen Capital di SCBD, Jumat malam. Terlambat satu jam dari jadwal, karena macetnya jalan di sepanjang kawasan Kuningan. Zaini dan Imam sudah tiba dua jam sebelumnya. Keduanya menunggu saya di lobi apartemen. Kami bertiga memang janjian di apartemen milik Grup Artha Graha itu untuk bertemu Pak Dahlan Iskan yang baru tiba dari Singapura, Jumat petang. Senyum mengembang ketika wajah saya nongol dari balik pintu. “Assalamu’alaikum JTO... Apa kabar?” ujar Pak Dahlan sambil selonjoran di sofa membaca novel setebal 700-an halaman. Sekilas tidak ada yang berubah. Pak Dahlan terlihat sehat. Tidak tampak raut wajah yang kesakitan atau sedang menahan sakit. Semua terlihat normal. Memang sedikit kurus. Mungkin karena beberapa waktu terakhir ini sedang menjalani perawatan medis. Tapi secara umum Pak Dahlan tidak berubah. Gerakannya tetap gesit. Suaranya tetap melengking. Sambil menunggu sop buntut siap disa...
Komentar
Posting Komentar